Ku tak mampu singkirkannya dari benak kosongku
Sungguh bagai suatu buai dalam duka
meski hanya sebuah keniscayaan
dan kebodohan dalam balut tipuan bibir manis
dari niat busuk marginalis
yang dimana mana selalu meneriakkan keadilan bagi tertindas
namun menindas dan menggilas
menyodorkan badai dalam litaninya
menggoyah rebah dalam deru gelap memanas
masih punya kesanggupan dan hebat berhomili ala farisi marginalis
sebuah rekonsiliasi bersama sang maha
membuatku memohon dengan teramat sangat
agar mampu mengusir marginalis palsu
karena ku tahu kutak mampu
kutahu kutak sanggup
namun kembali ku harus bangkit hingga tiba di perhentian terakhirku
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment