Terlumat habis bibir yang banyak bicara didepan mereka
hingga sesak seluruh rongga tanpa sekat yang berwarna jingga
yang selalu membuat penantian panjang tak bertepi
tanpa ada sebuah maklumat ataupun fatwa
Kutikam jiwamu dengan desahan stratokaster yang berirama tanpa syair
tanpa reffrain bahkan akhir
Tak kupedulikan langit mencibir apalagi cakrawala yang berkenyit angin yang menderu apalagi dingin yang mengepung
Epilogi yang terselubung dalam kemahiran seorang maestro
mengalahkan cupid yang hanya berpanah tanpa busana
menebar pesona dengan garang dalam pola yang amat margin
membawa aroma yang digandrungi Airis
Tanpa senapan namun mampu menembuskan peluru tepat di detak jantung
Tanpa bayonet namun mampu menusuk ke hati yang paling dalam
Brahma............ataukah Shiwa yang menitis padamu???
Hingga mahkota kepalamu tak dapat tersentuh ????
Masih dalam buai lumatan bibir yang ahli mencibir para hipokrit
negeri tak bertuan yang gemah ripah lohjinawi
menebar rasa tanpa asa
hingga masa episode terakhir yang tak berakhir
mengantung impian di via dolorosa
Ciuman Yudas saat malam penyerahan
bersorak bagai farisi bersama hipokrit
seolah bagai thomas namun 3 kali menyangkal
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment