Setelah melewati KAMIS PUTIH
mengenang perjamuan terakhir Tuhan Yesus......... dimana ketika perjamuan terakhir itu Tuhan Membasuh kaki para murid NYA.
Kamis Putih 07: Kel 12:1-8.11-14; 1Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15
“Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu”
Ketika Yesus hendak ‘membasuh kaki para murid’ Ia ‘menanggalkan jubahNya’, dengan kata lain ‘melepaskan kebesaranNya’ agar dapat melayani atau paling tidak sama dengan yang dilayani. Seorang pelayan memang berpakaian sederhana, apa adanya, tanpa assesori atau hiasan-hiasan, biasa-biasa saja. Ia bekerja dengan rendah hati, ceria/gembira, keras dan tekun agar yang dilayani bahagia dan sejahtera. Demikian pula jika kita berjiwa dan bersikap melayani harus ‘berani menanggalkan kebesaran atau atribut’ yang menghalangi dalam melayani. Kebesaran-kebesaran atau atribut-atribut seperti ‘sarjana, tuan atau nyonya, yang mulia atau yang terhormat, pimpinan atau atasan dst..’ hendaknya ‘dilepaskan’ untuk menjadi sama dengan yang dilayani. “Turba”, turun kebawah itulah gaya hidup dan cara berindak orang yang berjiwa dan bersikap melayani.
“Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu”
Ketika Yesus hendak ‘membasuh kaki para murid’ Ia ‘menanggalkan jubahNya’, dengan kata lain ‘melepaskan kebesaranNya’ agar dapat melayani atau paling tidak sama dengan yang dilayani. Seorang pelayan memang berpakaian sederhana, apa adanya, tanpa assesori atau hiasan-hiasan, biasa-biasa saja. Ia bekerja dengan rendah hati, ceria/gembira, keras dan tekun agar yang dilayani bahagia dan sejahtera. Demikian pula jika kita berjiwa dan bersikap melayani harus ‘berani menanggalkan kebesaran atau atribut’ yang menghalangi dalam melayani. Kebesaran-kebesaran atau atribut-atribut seperti ‘sarjana, tuan atau nyonya, yang mulia atau yang terhormat, pimpinan atau atasan dst..’ hendaknya ‘dilepaskan’ untuk menjadi sama dengan yang dilayani. “Turba”, turun kebawah itulah gaya hidup dan cara berindak orang yang berjiwa dan bersikap melayani.
Malam ini tuhan berada di TAman Getsemani..dengan berpeluh darah dan keringat ia di sana......... tanpa teman....
Setelah Misa di gereja sempat mengantar teman MUDIKA yang tuguran di depan tabernakel.................di gereja St.Yosep.
Pagi Ini Sudah Jumat......... JUMAT AGUNG Ketika Sengsara Tuhan Yesus Dimulai..dimulai ketika datang Yudas......... dengan ciuman dia menandai Yesus.......menyerahkan Tuhan....demi harta.
Inilah kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus
Jumat Agung 07: Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16;5:7-9; Yoh 18:1-19:42
“Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air”
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku”(Mat 27:46)
Ketika disalibkan Yesus ditinggalkan oleh para rasul yang selama kurang lebih tiga tahun menyertaiNya, bahkan mereka telah menyingkir atau melarikan diri ketika Yesus ditangkap oleh musuh-musuhNya. Sebagai manusia biasa kiranya berada di puncak penderitaan sendirian sungguh merasa kesepian, dan derita yang dialamiNya semakin terasa berat. Dalam kesendirian di puncak penderitaan macam itu jika terjadi pada diri kita mungkin kita marah-marah atau putus asa. Memang berada di puncak kesepian orang dapat mendua: putus asa atau semakin terbuka menaruh harapan pada Sang Pencipta. Dalam puncak penderitaan atau kesepianNya, Yesus ingat akan Allah Bapa yang mengutusNya, meskpun Ia juga nampak ditinggalkan oleh Allah Bapa ketika berkata :”AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku”.
Kita adalah murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus dan kiranya kita dapat belajar dari atau meneladan Yesus ketika berada di puncak penderitaan atau kesepian, apalagi ketika penderitaan atau kesepian tersebut merupakan buah dari kesetiaan kita pada iman, panggilan atau tugas perutusan
"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34)
“Tiba ketiban ondo” (= Jatuh kejatuhan tangga lagi), demikian kata pepatah Jawa, yang menggambarkan adanya penderitaan bertubi-tubi. Pengalaman demikian itu terjadi pada Yesus: Ia menderita dipaku di kayu salib dan mereka yang menyalibkanNya mengolok-olok dan mengihina seenaknya dengan bangga. Menghadapi hal itu Ia tidak marah atau balas dendam kepada mereka yang menyalibkan dan mengolok-olok tetapi dengan kasih pengampunan memohonkan ampun bagi mereka: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Mereka, para serdadu dan orang-orang Yahudi yang menyalibkanNya merasa diri sebagai pahlawan alias merasa tidak bersalah, dan kiranya mereka tidak salah karena tidak tahu apa yang mereka perbuat. Mereka hanyalah orang-orang suruhan. Rasanya banyak orang atau sesama kita sering berbuat demikian juga: mereka menghina dan mengolok-olok kita, begitulah menurut perasaan kita, tetapi sebenarnya tidaklah demikian yang terjadi di dalam hati mereka. Maka baiklah kita meneladan Yesus: ketika ada orang yang menyakiti atau mempersulit kita hendaknya jangan marah atau balas dendam, melainkan berdoa seperti Yesus : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Inilah doa seorang pahlawan penyelamatan jiwa.
“Tiba ketiban ondo” (= Jatuh kejatuhan tangga lagi), demikian kata pepatah Jawa, yang menggambarkan adanya penderitaan bertubi-tubi. Pengalaman demikian itu terjadi pada Yesus: Ia menderita dipaku di kayu salib dan mereka yang menyalibkanNya mengolok-olok dan mengihina seenaknya dengan bangga. Menghadapi hal itu Ia tidak marah atau balas dendam kepada mereka yang menyalibkan dan mengolok-olok tetapi dengan kasih pengampunan memohonkan ampun bagi mereka: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Mereka, para serdadu dan orang-orang Yahudi yang menyalibkanNya merasa diri sebagai pahlawan alias merasa tidak bersalah, dan kiranya mereka tidak salah karena tidak tahu apa yang mereka perbuat. Mereka hanyalah orang-orang suruhan. Rasanya banyak orang atau sesama kita sering berbuat demikian juga: mereka menghina dan mengolok-olok kita, begitulah menurut perasaan kita, tetapi sebenarnya tidaklah demikian yang terjadi di dalam hati mereka. Maka baiklah kita meneladan Yesus: ketika ada orang yang menyakiti atau mempersulit kita hendaknya jangan marah atau balas dendam, melainkan berdoa seperti Yesus : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Inilah doa seorang pahlawan penyelamatan jiwa.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43
Memang secara manusiawi kita dapat berkata: Jika orang selama hidupnya tidak pernah bergaul dengan Tuhan, maka ketika dipanggil Tuhan akan takut, menolak dan marah-marah, sebaliknya jika selama hidupnya terbiasa bergaul dengan Tuhan ketika dipanggil Tuhan dihadapinya dengan senyuman dan setelah menjadi mayat/jenasah nampak semakin cantik atau tampan penuh senyuman.
"Inilah ibumu!” (Yoh 19:27)
Bunda Maria, teladan umat beriman, yang mengawali kesanggupannya untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan dengan menjadi Bunda Penyelamat Dunia ketika berkata :”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38 ), kini juga berpartisipasi dalam penderitaan Penyelamat Dunia, Yesus: ia berada/berdiri di bawah salib Yesus bersama dengan murid yang terkasih,Yohanes. Di puncak deritaNya Ia menunjuk pada Maria, BundaNya dan berkata kepada Yohanes, murid terkasih: “Inilah ibumu”. Kata-kata terakhir dari mereka yang akan dipanggil Tuhan atau mati pada umumnya singkat dan bermakna mendalam. Sabda Yesus “Inilah ibumu” juga terarah kepada kita semua yang percaya kepadaNya atau menjadi sahabat-sahabatNya: kita memiliki ibu yang penuh kasih dan menjadi teladan hidup beriman, Bunda Maria. Kita dipanggil untuk berpartisipasi meneruskan karya penyelamatan bersama Bunda Maria, dengan kata lain kita juga diundang untuk senantiasa ‘berdiri di bawah kayu salib’ alias berjuang dengan panji-panji salib dalam hidup, tugas pekerjaan dan panggilan kita masing-masing. Bersama dengan Bunda Maria kita akan mampu menelusuri jalan salib kehidupan, panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing, maka marilah dalam menghayati iman dan panggilan kita tidak melupakan devosi kepada Bunda Maria, antara lain berdoa rosario setiap hari. Doa dan pendampingan seorang ibu senantiasa menguatkan dan memberdayakan putra-putrinya yang sedang dalam penderitaan dan perjuangan.
Bunda Maria, teladan umat beriman, yang mengawali kesanggupannya untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan dengan menjadi Bunda Penyelamat Dunia ketika berkata :”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38 ), kini juga berpartisipasi dalam penderitaan Penyelamat Dunia, Yesus: ia berada/berdiri di bawah salib Yesus bersama dengan murid yang terkasih,Yohanes. Di puncak deritaNya Ia menunjuk pada Maria, BundaNya dan berkata kepada Yohanes, murid terkasih: “Inilah ibumu”. Kata-kata terakhir dari mereka yang akan dipanggil Tuhan atau mati pada umumnya singkat dan bermakna mendalam. Sabda Yesus “Inilah ibumu” juga terarah kepada kita semua yang percaya kepadaNya atau menjadi sahabat-sahabatNya: kita memiliki ibu yang penuh kasih dan menjadi teladan hidup beriman, Bunda Maria. Kita dipanggil untuk berpartisipasi meneruskan karya penyelamatan bersama Bunda Maria, dengan kata lain kita juga diundang untuk senantiasa ‘berdiri di bawah kayu salib’ alias berjuang dengan panji-panji salib dalam hidup, tugas pekerjaan dan panggilan kita masing-masing. Bersama dengan Bunda Maria kita akan mampu menelusuri jalan salib kehidupan, panggilan dan tugas perutusan kita masing-masing, maka marilah dalam menghayati iman dan panggilan kita tidak melupakan devosi kepada Bunda Maria, antara lain berdoa rosario setiap hari. Doa dan pendampingan seorang ibu senantiasa menguatkan dan memberdayakan putra-putrinya yang sedang dalam penderitaan dan perjuangan.
"Aku haus!"(Yoh 19:28)
"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."(Luk 23:46)
Pada puncak derita atau kesepian kiranya orang tidak punya apa-apa lagi, namun masih memiliki sesuatu yang paling berharga yaitu ‘nyawa’ atau ‘roh’. Nyawa atau roh berarti sesuatu yang menghidupi atau menggairahkan, dan hal itu secara konkret menjadi nyata dalam apa yang disebut dengan cita-cita, dambaan atau harapan. Maka menyatu dengan Yesus yang tersalib dan berdoa “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” berarti kita dipanggil untuk menyerahkan cita-cita, dambaan dan harapan kita kepada Tuhan: menjernihkan cita-cita, dambaan dan harapan agar sesuai dengan kehendak Tuhan atau menyatukan cita-cita, dambaan dan harapan pada kehendak Tuhan, sehingga kita bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan atau spiritualitas/karisma atau visi ‘lembaga’ dimana saya hidup dan terkait di dalamnya. Kita tidak bertindak menurut kemauan atau selera sendiri, sehingga sebagai sahabat dan murid Yesus kita dapat berkata seperti Paulus: “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya” (Ef 3:12 ).
Pada puncak derita atau kesepian kiranya orang tidak punya apa-apa lagi, namun masih memiliki sesuatu yang paling berharga yaitu ‘nyawa’ atau ‘roh’. Nyawa atau roh berarti sesuatu yang menghidupi atau menggairahkan, dan hal itu secara konkret menjadi nyata dalam apa yang disebut dengan cita-cita, dambaan atau harapan. Maka menyatu dengan Yesus yang tersalib dan berdoa “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” berarti kita dipanggil untuk menyerahkan cita-cita, dambaan dan harapan kita kepada Tuhan: menjernihkan cita-cita, dambaan dan harapan agar sesuai dengan kehendak Tuhan atau menyatukan cita-cita, dambaan dan harapan pada kehendak Tuhan, sehingga kita bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan atau spiritualitas/karisma atau visi ‘lembaga’ dimana saya hidup dan terkait di dalamnya. Kita tidak bertindak menurut kemauan atau selera sendiri, sehingga sebagai sahabat dan murid Yesus kita dapat berkata seperti Paulus: “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya” (Ef 3:12 ).
'Sudah selesai.”(Yoh 19:30)
”Sudah selesai”, itulah kata-kata terakhir dari Yesus yang wafat di kayu salib. Ia telah menyelesaikan tugas perutusanNya dengan mempersembahkan Diri seutuhnya kepada Bapa yang mengutus dan dunia yang harus diselamatkan, dan secara konkret wafat di kayu salib yang berdiri ke puncak ketinggian bukit
”Sudah selesai”, itulah kata-kata terakhir dari Yesus yang wafat di kayu salib. Ia telah menyelesaikan tugas perutusanNya dengan mempersembahkan Diri seutuhnya kepada Bapa yang mengutus dan dunia yang harus diselamatkan, dan secara konkret wafat di kayu salib yang berdiri ke puncak ketinggian bukit

No comments:
Post a Comment